Rabu, 28 Mei 2008

Ciremay Tanpa Bonus


Hari itu Sabtu 17 Mei 2008 saya dan dua orang teman yaitu Prim dan Hudiono melakukan start perjalanan menuju lokasi pendakian Gn. Ciremay di Cirebon Jawabarat tepatnya pada Pkl 15.30 dengan menggunakan jasa angkutan Bus Luragung tujuan Kuningan. Singkat cerita sampailah kami di Shalter pendaftaran pendakian di Linggarjati (Bp Ahmad)pada jam 23.30 Wib dan ternyata saat itu bukan kami saja yag hendak melakukan pendakian tetapi sudah ada tim pendaki dari Unsoed Purwokerto, Semarang, Bekasi dan Cirebon. Malam itu kami memilih beristirahat menyiapkan fisik untuk melakukan perjalanan dikeesokan pagi sedangkan sebagian dari tim yang lain memilih melakukan perjalanan pada malam itu juga maklumlah diantara kami bertiga belum ada satupun yang tahu jalur pendakian ke puncak Ciremay. Pagi harinya Minggu, 18 Mei 2008 Pkl 07.30 Wib kami start mendaki gunung dari Pos Bp.Ahmad dan saat itu kami disuguhi pemandangan hamparan sawah petani yang hijau dan kuning sebelum kami diketemukan dengan jalan yang mulai menanjak menuju Shalter peristirahatan Cibunar, sesampainya di tempat ini kami segera mengisi botol-botol air minum di sebuah mata air yang tersedia melimpah di tempat ini karena setelah pos Cibunar pendaki tidak akan menemukan sumber air di sepanjang jalur pendakian sampai dengan Puncak. Setelah semuanya siap dengan masing-masing personil membawa air sebanyak 2 botol air mineral ukuran 1,5 ltr dan 3 btl kecil (600 ml) kami pun memulai perjalanan lagi dengan melewati hutan Pinus yang cukup asri, sesampainya di penghujung hutan kami di hadapkan pada dua jalur yaitu lurus dan kekiri setelah diperhatikan ternyata jalur kekiri lebih halus yang kami kira jalur itulah yang benar, tapi setelah kami ikuti ternyata jalur itu menemui jalan buntu dan tak ada tanda-tanda ada jalur mendaki, dengan suasana hati yang bingung dan cemas karena nyasar karena tidak kunjung menemukan jalan kamipun memutuskan untuk kembali ke jalur percabangan semula yang jaraknya cukup jauh dan menyita waktu juga tenaga. Sesampainya di jalur semula kami berpencar mencari jalur yang benar beruntunglah kami bertemu dengan beberapa anak penduduk lereng gunung yang hendak jalan-jalan dan ketemulah dengan jalur yang benar. Setelah memasuki hutan Ciremai kami terus menyusuri jalan setapak yang terus menanjak sampai akhirnya kami tiba di tempat peristirahatan "Condang Amis" yang cukup luas dan datar. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan menuju Shalter kedua yaitu "Shalter Kuburan Kuda". perjalanan menuju tempat ini juga terus menanjak dan hampir tanpa bonus, jalan yang berliku membuat kami harus ekstra hati-hati dan menggunakan akar pepohonan untuk kami berpegangan agar bisa terus naik, sebelum sampai di Kuburan Kuda kami nyasar lagi di sebuah persimpangan kearah kiri dan kanan, karena kami ambil jalur kiri yang kira kami benar kamipun tersesat untuk yang kedua kalinya dengan terus masuk kedalam hutan yang semakin rimbun ditemani pepohonan raksasa yang semakin sunyi sampai pada akhirnya kami menemui jalan buntu dan memutuskan untuk kembali ke jalur percabangan semula. Sesampainya di jalur percabangan kami segera mengambil arah kanan dan ternyata jalur itulah yang benar satu kurang lebih satu jam kemudian kami sampai di shalter Kuburan Kuda, disana kami bertemu dengan pendaki yang berasal dari Semarang, Cirebon dan Kuningan dan beberapa pendaki lain yang hendak turun. Di shalter ini kami beristirahat, makan siang dan bercengkrama dengan pendaki-pendaki dari daerah lain sambil berkenalan dan berbagi cerita. Seusai makan siang kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang dan alangkah terkejutnya kami ketika kami baru beberapa langkah kami langsug dihadapkan pada sebuah tanjakan yang curam, licin dan nyaris tanpa pegangan dengan perasaan yang nyesak sambil geleng-geeng kepala atas sajian tersebut kami nekat untuk segera melewatinya dengan jalan merangkak dan ekstra hati-hati karena kemiringannya yang mencapai 45 derajat, tidak hanya itu setelah melewati tanjakan tersebut ternyata jalan di depan kamipun seperti itu terus dan setapak tapi itu sudah agak mendingan karena sudah ada banyak akar pepohonan yang dapat kami manfaatkan untuk berpegangan sampai dengan "Shalter Bapa Tere". sesampainya di shalter ke-3 ini kami beristirahat sejenak setelah melewati tanjakan yang begitu panjang dan tanpa bonus. Setelah rasa capek sudah agak hilang pada saat istirahat sambil makan makanan ringan kamipun melanjutkan perjalanan dengan kembali menyusuri jalan setapak berakar dan lorong tanah yang sempit sambil sesekali merangkak melewati pohon yang tumbang sampai pada akhirnya kami sampai di Shalter Batu Lingga. Hari sudah sore tapi perjalanan masih jauh kamipun memutuskan melanjutkan perjalanan setelah bergabung dengan 3 orang pendaki lain yang berasal dari Pantai Indah Kapuk Dino Cs. Perjalanan yang semakin gelap dan udara yang makin dingin memaksa kami untuk segera mengenakan penghangat badan dan mengeluarkan senter sebagai alat penerang jalan agar kami tidak tersesat lagi. Hari semakin gelap beberapa temankupun mulai kelelahan seperti Prim, Hudi dan Dino beserta rekannya dari Kapuk yang memaksa kami sering beristirahat, dengan badan yang sudah kelelahan setelah seharian terus mendaki yang jalurnya terus menanjak dengan kemiringan yang luar biasa kami memaksakan diri untk terus berjalan karena hampir tidak ada tempat rata yang dapat kami jadikan peristirahatan mendirikan tenda, dengan melewati tanjakan curam yang sempit, jalan setapak berakar dan batuan yang mudah longsor akhirnya kami sampai di "Shalter Sangga Buana 1". Ditempat ini sudah ada dua tenda yang bertengger, dengan kondisi yang semakin payah, kamipun memutuskan untuk berhenti dan ngecamp di tempat ini dan membatalkan rencana awal yang akan ngecamp di Shalter terakhir yaitu "Shalter Pengasinan". Dengan udara yang semakin dingin kamipun segera mendirikan tenda dan memasak makanan untuk makan malam dan cemilan, setelah perut terisi kamipun tidur dan beristirahat, untuk kembali melanjutkan perjalanan dini hari nanti. Jam tiga pagi kami bangun dan segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak dan menyaksikan Sunrise di puncak Ciremay, setelah semua selesai dan kami menitipkan sebagian barang-barang kami kepada tim Dino, kami segera bergegas melanjutkan perjalanan dan karena kami mendaki tanpa beban yang berat sekitar setengah jam kemudian kami sampai di "Shalter Sangga Buana 2". Sesampaianya di tempat ini kami langsng melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat dulu karena waktu tampaknya semakin pagi dan kami khawatir tidak berhasil menikmati Sunrise di Puncak Ciremay dan sekitar jam setengah lima pagi kami sampai di Shalter terakhir yaitu "Shalter Pengasinan", kamipun tidak menyia-nyiakan waktu setelah beristirahat sejenak kami segera melanjutkan perjalanan ke puncak yang masih membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Jalanpun semakin berbatu dab berdebu dan mudah seklai longsor sehingga kami harus ekstra hati-hati apalagi suasana yang sangat dingin gelap dan bau belerang dari kawah gunung. Tepat menjelang Sunrise kami sampai di Puncak dan ternyata sudah banyak dari pendaki-pendaki lain yang sudah sampai di puncak lebih dulu dan menanti keluarnya sang Mentari dengan ditemani Megawarna di ufuk timur, detik demi detik kami nentikan di bibir lingkaran kawah sampai pada akhirnya Sunrise tiba dengan pesona yang sungguh luar biasa indahnya, setelah kuranglebih satu jam kami puas menikmati Cakrawala Pagi di Puncak Ciremai dan berfoto-foto untuk dokumnetasi kamipun segera bergegas turun ke Shalter Sangga Buana 1 tempat kami mendirikan tenda tentunya dengan melewati Shalter Pengasinan dan Shalter Sangga Buana 2. Sesampainya di tenda kami segera membuat Sarapan pagi dan packing barang untuk selanjutnya kami turun gunung, akhirnya menjelang malam (waktunya sholat Maghrib) kami sampai di Pos BpAhmad tempat kami mendaftar, berhubung rekan kami Prim mengalami masalah dengan kesehatan dan kakinya kamipun membatalkan rencana awal untuk ngecamp satu malam lagi dan setelah bersih-bersih badan dan packing ulang kami segera menuju jalan raya dan menunggu Bis Tujuan Jakarta. Setelah mendapatkan tumpangan menuju Jakarta kamipun tertidur pulas didalam bis dan sekitar jam setengah dua kami sampai di keidaman Hudiono di bilangan Tanjung Priok Jakarta Utara. Merdeka.....!!!!