Rabu, 28 Mei 2008

Ciremay Tanpa Bonus


Hari itu Sabtu 17 Mei 2008 saya dan dua orang teman yaitu Prim dan Hudiono melakukan start perjalanan menuju lokasi pendakian Gn. Ciremay di Cirebon Jawabarat tepatnya pada Pkl 15.30 dengan menggunakan jasa angkutan Bus Luragung tujuan Kuningan. Singkat cerita sampailah kami di Shalter pendaftaran pendakian di Linggarjati (Bp Ahmad)pada jam 23.30 Wib dan ternyata saat itu bukan kami saja yag hendak melakukan pendakian tetapi sudah ada tim pendaki dari Unsoed Purwokerto, Semarang, Bekasi dan Cirebon. Malam itu kami memilih beristirahat menyiapkan fisik untuk melakukan perjalanan dikeesokan pagi sedangkan sebagian dari tim yang lain memilih melakukan perjalanan pada malam itu juga maklumlah diantara kami bertiga belum ada satupun yang tahu jalur pendakian ke puncak Ciremay. Pagi harinya Minggu, 18 Mei 2008 Pkl 07.30 Wib kami start mendaki gunung dari Pos Bp.Ahmad dan saat itu kami disuguhi pemandangan hamparan sawah petani yang hijau dan kuning sebelum kami diketemukan dengan jalan yang mulai menanjak menuju Shalter peristirahatan Cibunar, sesampainya di tempat ini kami segera mengisi botol-botol air minum di sebuah mata air yang tersedia melimpah di tempat ini karena setelah pos Cibunar pendaki tidak akan menemukan sumber air di sepanjang jalur pendakian sampai dengan Puncak. Setelah semuanya siap dengan masing-masing personil membawa air sebanyak 2 botol air mineral ukuran 1,5 ltr dan 3 btl kecil (600 ml) kami pun memulai perjalanan lagi dengan melewati hutan Pinus yang cukup asri, sesampainya di penghujung hutan kami di hadapkan pada dua jalur yaitu lurus dan kekiri setelah diperhatikan ternyata jalur kekiri lebih halus yang kami kira jalur itulah yang benar, tapi setelah kami ikuti ternyata jalur itu menemui jalan buntu dan tak ada tanda-tanda ada jalur mendaki, dengan suasana hati yang bingung dan cemas karena nyasar karena tidak kunjung menemukan jalan kamipun memutuskan untuk kembali ke jalur percabangan semula yang jaraknya cukup jauh dan menyita waktu juga tenaga. Sesampainya di jalur semula kami berpencar mencari jalur yang benar beruntunglah kami bertemu dengan beberapa anak penduduk lereng gunung yang hendak jalan-jalan dan ketemulah dengan jalur yang benar. Setelah memasuki hutan Ciremai kami terus menyusuri jalan setapak yang terus menanjak sampai akhirnya kami tiba di tempat peristirahatan "Condang Amis" yang cukup luas dan datar. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan menuju Shalter kedua yaitu "Shalter Kuburan Kuda". perjalanan menuju tempat ini juga terus menanjak dan hampir tanpa bonus, jalan yang berliku membuat kami harus ekstra hati-hati dan menggunakan akar pepohonan untuk kami berpegangan agar bisa terus naik, sebelum sampai di Kuburan Kuda kami nyasar lagi di sebuah persimpangan kearah kiri dan kanan, karena kami ambil jalur kiri yang kira kami benar kamipun tersesat untuk yang kedua kalinya dengan terus masuk kedalam hutan yang semakin rimbun ditemani pepohonan raksasa yang semakin sunyi sampai pada akhirnya kami menemui jalan buntu dan memutuskan untuk kembali ke jalur percabangan semula. Sesampainya di jalur percabangan kami segera mengambil arah kanan dan ternyata jalur itulah yang benar satu kurang lebih satu jam kemudian kami sampai di shalter Kuburan Kuda, disana kami bertemu dengan pendaki yang berasal dari Semarang, Cirebon dan Kuningan dan beberapa pendaki lain yang hendak turun. Di shalter ini kami beristirahat, makan siang dan bercengkrama dengan pendaki-pendaki dari daerah lain sambil berkenalan dan berbagi cerita. Seusai makan siang kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang dan alangkah terkejutnya kami ketika kami baru beberapa langkah kami langsug dihadapkan pada sebuah tanjakan yang curam, licin dan nyaris tanpa pegangan dengan perasaan yang nyesak sambil geleng-geeng kepala atas sajian tersebut kami nekat untuk segera melewatinya dengan jalan merangkak dan ekstra hati-hati karena kemiringannya yang mencapai 45 derajat, tidak hanya itu setelah melewati tanjakan tersebut ternyata jalan di depan kamipun seperti itu terus dan setapak tapi itu sudah agak mendingan karena sudah ada banyak akar pepohonan yang dapat kami manfaatkan untuk berpegangan sampai dengan "Shalter Bapa Tere". sesampainya di shalter ke-3 ini kami beristirahat sejenak setelah melewati tanjakan yang begitu panjang dan tanpa bonus. Setelah rasa capek sudah agak hilang pada saat istirahat sambil makan makanan ringan kamipun melanjutkan perjalanan dengan kembali menyusuri jalan setapak berakar dan lorong tanah yang sempit sambil sesekali merangkak melewati pohon yang tumbang sampai pada akhirnya kami sampai di Shalter Batu Lingga. Hari sudah sore tapi perjalanan masih jauh kamipun memutuskan melanjutkan perjalanan setelah bergabung dengan 3 orang pendaki lain yang berasal dari Pantai Indah Kapuk Dino Cs. Perjalanan yang semakin gelap dan udara yang makin dingin memaksa kami untuk segera mengenakan penghangat badan dan mengeluarkan senter sebagai alat penerang jalan agar kami tidak tersesat lagi. Hari semakin gelap beberapa temankupun mulai kelelahan seperti Prim, Hudi dan Dino beserta rekannya dari Kapuk yang memaksa kami sering beristirahat, dengan badan yang sudah kelelahan setelah seharian terus mendaki yang jalurnya terus menanjak dengan kemiringan yang luar biasa kami memaksakan diri untk terus berjalan karena hampir tidak ada tempat rata yang dapat kami jadikan peristirahatan mendirikan tenda, dengan melewati tanjakan curam yang sempit, jalan setapak berakar dan batuan yang mudah longsor akhirnya kami sampai di "Shalter Sangga Buana 1". Ditempat ini sudah ada dua tenda yang bertengger, dengan kondisi yang semakin payah, kamipun memutuskan untuk berhenti dan ngecamp di tempat ini dan membatalkan rencana awal yang akan ngecamp di Shalter terakhir yaitu "Shalter Pengasinan". Dengan udara yang semakin dingin kamipun segera mendirikan tenda dan memasak makanan untuk makan malam dan cemilan, setelah perut terisi kamipun tidur dan beristirahat, untuk kembali melanjutkan perjalanan dini hari nanti. Jam tiga pagi kami bangun dan segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak dan menyaksikan Sunrise di puncak Ciremay, setelah semua selesai dan kami menitipkan sebagian barang-barang kami kepada tim Dino, kami segera bergegas melanjutkan perjalanan dan karena kami mendaki tanpa beban yang berat sekitar setengah jam kemudian kami sampai di "Shalter Sangga Buana 2". Sesampaianya di tempat ini kami langsng melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat dulu karena waktu tampaknya semakin pagi dan kami khawatir tidak berhasil menikmati Sunrise di Puncak Ciremay dan sekitar jam setengah lima pagi kami sampai di Shalter terakhir yaitu "Shalter Pengasinan", kamipun tidak menyia-nyiakan waktu setelah beristirahat sejenak kami segera melanjutkan perjalanan ke puncak yang masih membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Jalanpun semakin berbatu dab berdebu dan mudah seklai longsor sehingga kami harus ekstra hati-hati apalagi suasana yang sangat dingin gelap dan bau belerang dari kawah gunung. Tepat menjelang Sunrise kami sampai di Puncak dan ternyata sudah banyak dari pendaki-pendaki lain yang sudah sampai di puncak lebih dulu dan menanti keluarnya sang Mentari dengan ditemani Megawarna di ufuk timur, detik demi detik kami nentikan di bibir lingkaran kawah sampai pada akhirnya Sunrise tiba dengan pesona yang sungguh luar biasa indahnya, setelah kuranglebih satu jam kami puas menikmati Cakrawala Pagi di Puncak Ciremai dan berfoto-foto untuk dokumnetasi kamipun segera bergegas turun ke Shalter Sangga Buana 1 tempat kami mendirikan tenda tentunya dengan melewati Shalter Pengasinan dan Shalter Sangga Buana 2. Sesampainya di tenda kami segera membuat Sarapan pagi dan packing barang untuk selanjutnya kami turun gunung, akhirnya menjelang malam (waktunya sholat Maghrib) kami sampai di Pos BpAhmad tempat kami mendaftar, berhubung rekan kami Prim mengalami masalah dengan kesehatan dan kakinya kamipun membatalkan rencana awal untuk ngecamp satu malam lagi dan setelah bersih-bersih badan dan packing ulang kami segera menuju jalan raya dan menunggu Bis Tujuan Jakarta. Setelah mendapatkan tumpangan menuju Jakarta kamipun tertidur pulas didalam bis dan sekitar jam setengah dua kami sampai di keidaman Hudiono di bilangan Tanjung Priok Jakarta Utara. Merdeka.....!!!!

Minggu, 09 Maret 2008

Rahasia Infaq


Diakui atau tidak, kita dalam hidup sehari-hari masih selalu terserimpung dengan perasaan berat untuk menginfakkan sebagian harta kita kepada yang berhak.
Kita sering tidak merasa tersentuh oleh anak-anak kecil yang memanggil-manggil dengan menjajakan koran di depan jendela mobil kita, saat kita berhenti di
persimpangan jalan.

Kita sering perhitungan untuk membantu tetangga yang kelaparan,
para pengemis yang terdesak lapar, para fakir miskin yang tidak sanggup
lagi membiayai anaknya sekolah. Untuk zakat saja yang merupakan kewajiban, kita selalu berusaha menghindar dan mencari-cari alasan. Apa yang membuat berat? Apakah harta kita akan berkurang? Apakah Infaq dan zakat memang menguras harta kekayaan kita?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini ada beberapa
hal yang harus disadari:

Pertama: kurangnya, kalau tidak ingin disebut tidak ada, kesadaran bahwa harta yang kita miliki itu sebenarnya milik Allah. Kita bukan pemilik yang
sebenarnya. Kita hanya pembawa amanat. Suatu saat, sehebat apapun kita menjaga dan menyimpannya, kita pasti akan meninggalkannya. Kita pasti akan berpisah dengan harta kekayaan, bahkan kita akan diminta pertanggung jawaban mengenai sejauh mana kita menggunakan harta yang kita genggam.
Tidak adanya kesadaran seperti ini, menyebabkan lahirnya pemahaman yang salah: bahwa harta itu itu milik kita sepenuhnya, ia adalah hasil keringart dan jerih payahnya. Akibatnya ia menjadi pelit dan kikir, padahal kalau ia pikirkan secara mendalam, ia akan sampai kepada sebuah jawaban, bahwa yang menentukan kaya tidaknya seseorang, bukan karena keringat dan jerih payahnya, melainkan Allah.
Lihat kenyataan yang sering ada dalam kehidupan kita, banyak kita menyaksikan saudara-saudara kita bekerja keras siang dan malam, tapi ternyata rejekinya masih saja hanya cukp dimakan. Di saat yang sama kita juga menyaksikan sejumlah orang yang hanya duduk santai, bahkan tidur-tiduran,tapi Allah melimpahkan kepadanya kekayaan yang melimpah ruah.

Kedua: kurang mantapnya keyakinan akan janji Allah, bahwa setiap apa yang kita infakkan akan mendapatkan ganti tujuh ratus kali lipat. Akibatnya kita selalu
keberatan untuk berinfaq. Sebab kita selalu yakin bila berinfaq hartanya pasti akan berkurang, padahal janji Allah pasti dan tidak pernah diingkari. Sungguh betapa
banyak bukti-bukti yang menguatkan betapa Allah melimpahkan harta orang-orang yang selalu membayar zakat dan infaq.

Dalam kisah orang-orang soleh sering kita membaca bahwa mereka begitu kuat keyakinanya terhadap janji Allah tersebut, sehingga mereka tidak pernah sama sekali terbebani oleh dunia yang ada ditangan mereka. Imam Ahmad bin Hanbal, ketika diberi hadiah oleh seorang khalifah sejumlah hadiah, beliau tidak pernah berfikir bagaimana menikmati harta tersebut, malainkan beliau segera menginfakkannya kepada yang berhak. Itulah kemudian kita menyaksikan kehidupan beliau begitu berkah, dinamis dan produktif, tidak terbebani permasalahan dunia apapun. Apalagi beliau memang memilih hidup sederhana.

Ketiga: kita selalu dikuasai oleh perasaan ingin dipuji, ingin dibilang bahwa kita dermawan. Kalau tidak ada yang menyaksikan atau di depan khalayak, kita
tidak mau bersedekah. Baru kalau kita bisa menunjukkan gengsi sosial kita mau bersedekah. Akibatnya infaq yang kita lakukan bukan atas dasar iman, melainkan
karena gengsi sosial. Dari sinilah hilangnya keberkahan dalam infaq kita. Sebab Allah sangat membenci orang yang berinfaq dengan tujuan supaya dipuji orang lain.

Dalam terminology agama, sikap semacam ini dikategorikan riya'. Suatu sikap yang akan mengundang dosa. Bahkan riya' disebut juga "Assyirkul Asghar" (syirik kecil), sebab dengan sikap tersebut ia lebih menyukai dipuji orang daripada dipuji Allah. Tegasnya ia telah mensejajarkan manusia dengan Allah..

Keempat: lemahnya kesadaran bahwa setiap yang kita infaqkan akan menjadi tabungan kita di hari akhirat, yaitu kehidupan kita yang kekal kelak. Mencapai
kebahagiaan dalam kehidupan ini memerlukan bekal khusus yang berkualitas. Bekal tersebut harus kita persiapkan dengan nilai-nilai keihlasan sewaktu di
dunia. Salah satu bekal tersebut adalah berinfaq.

Tidak harus dengan harta, namun dengan apa saja yang ia miliki. Mereka yang mempunyai ilmu bisa berinfaq dengan ilmu, mereka yang punya harta bisa berinfaq dengan hartanya, begitu seterusnya. Satu hal yang perlu kita yakini bersama bahwa barang siapa yang berinfaq di jalan Allah dengan tanpa hitungan "bighairi hisab" maka Allah akan membalasnya dengan tanpa hitungan pula. Amiin.


Diposting Dari artikel : Amir Faisal Fath, Mahasiswa Paska Sarjana,
Tafsir al-Qur'an, International Islami Univrsity
Islamabad .
Sumber Utama : Pesantren Virtual

Minggu, 02 Maret 2008

Hari yang Cerah


Matahari yang mengintip di ufuk timur seyogyanya membangunkanku untuk kembali beraktifitas sebagaimana biasanya, tetapi setelah kutersadar bahwa ini hari adalah hari Minggu rasa malaspun menguasai pikiranku. Lari pagi seharusnya kulakukan itulah keinginan yang ingin sekali aku kerjakan tapi entah kenapa setiap hari libur tiba perasaan malas lebih dulu menguasai pagiku, semangat yang kukumpulkan dari beberapa hari yang lalupun hilang dan kalah oleh rasa ngantuk dan malas yang lebih dulu menyelinap dalam otakku.
Sahabat... apa yang mesti aku lakukan untuk menghilangkan rasa itu, tolong dong.... aku hanya tidak mau terus larut dan dikuasai oleh si Malas ini setiap kali hari libur datang, barangkali ada diantara pembaca yang mempunyai tips menghilangkan rasa malas aku berterima kasih sekali untuknya. Ditunggu kabar baiknya ya...

Rabu, 27 Februari 2008

Cerita Bersama Teman


Liburan Ujian Tengah semester terasa begitu menyenangkan dan berkesan, itu semua gara-gara Sukabumi yang memberikan cerita tersendiri karena suasana alam yang begitu mempesona dan bikin kerasan untuk di tinggali, keakraban dan kebersamaan yang terjalin pun masih melekat sampai kini "The Story of Sukabumi" adalah cerita manis nan indah untuk dikenang dan diulang.
Ditemani oleh dinginnya udara di lembah Gunung Gede-Pangrango dan sunyinya suasana semakin menambah pesona alam yang begitu menggoda untuk terus dinikmati, tapi karena waktulah yang tidak mengijinkan kami untuk tinggal lebih lama di tempat itu maka kami hanya dua hari satu malam berada disana. Senang rasanya bila suatu saat nanti bisa ngeCamp di tempat itu lagi dengan personil yang lebih banyak.

KISAH SEEKOR ULAT DENGAN NABI DAUD A.S


Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.
Lalu Nabi Daud A.S. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"
Sebaik sahaja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. Lalu ulat merah itu pun mula berkata-kata kepada Nabi Daud A.S. "Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca 'Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar' setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca 'Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim' setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud A.S. "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?"
Akhirnya Nabi Daud menyedari akan kesilapannya kerana memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T. maka Nabi Daud A.S. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T.
Begitulah sikap para Nabi A.S. apabila mereka mentedari kesilapan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T. Kisah-kisah yang berlaku pada zaman para nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa sahaja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.

Selasa, 26 Februari 2008

Bumi Kita


Hari Sabtu 23 Januari 2008
Mendung masih menyelimuti pagi Jakarta, berisiknya knalpot kendaraan sudah mulai menghangatkan suasana.
Pagi itu kesibukan sudah mulai nampak di sebuah tempat di Jl. Utankayu No. 68h, begitu banyaknya manusia di tempat ini dengan berbagai corak dan warna yang berbeda,oh... rupanya ada sebuah acara yang akan dilakukan oleh sebuah lembaga di tempat ini yaitu Green Radio 89,2 Fm. Tiga unit kendaraan bus telah menunggu di pinggir jalan siap mengantarkan mereka dan aku ketempat tujuan yaitu Muara Angke, Jakarta Barat. Hari itu kegiatan yang akan dilakukan adalah penanaman kembali Hutan Bakau yang tinggal sedikit.
Panasnya udara Jakarta dan datangnya musim hujan yang diikuti banjir dan genangan air membuat kota ini makin tak nyaman untuk di tinggali ditambah lagi adanya isue Global Warming yang memberikan andil besar dalam perubahan iklim ini. Hal ini rupanya menjadi perhatian buat Green Radio untuk berpartisipasi menyegarkan kembali udara Jakarta dengan mengajak pendengarnya ikut aktif dalam kegiatan ini yang ikut disponsori pula oleh Perusahaan Gas Negara(PGN), Jakarta Green Monster, KBR68H, KLH, Blue Scope, Unilever dan Operator seluler XL.
Ternyata rame juga acara ini selain diliput oleh berbagai media cetak, televisi dan radio juga dimeriahkan oleh artis ibukota Evan Sanders dan Duta lingkungan hidup Valeria Daniel, pokoknya seru banget deh... rugi lhoo yang ga ikut apalagi waktu laginyebur ke tempat penanaman bakau/ Mangroove yang digenangi air dan lumpur setinggi dada kadang sesekali kita ditabrakin sama ikan Bandeng yang jail dan usil (apa kita yang usil kali yee....).
Tapi itulah yang dapat kita lakukan unutk mengembalikan kembai fungsi tanah, tanaman dan udara dengan semestinya, kita jangan terlalu banyak berharap dengan pemerintah yang sudah kebanjiran gawean dan protes dari para komentator yang sok pinter tanpa melakukan apa-apa, mendingan kita mulai dari hal yang kecil, yang gampang dan bisa dimulai dari sekarang karena bumi ini adalah milik kita bersama, jadi kalau bukan kita mo siapa lagi...? (halah... kayak juru kampanye aje ye....). Tapi bener kok seperti yang di katakan oleh Aa Gym pengasuh Ponpes Daarut Tauhid Bandung tea, bahwa "untuk melakukan suatu perubahan kearah yang lebih baik mulailah dari hal yang paling kecil, mulailah dari yang paling mudah dan mulailah sekarang juga" seperti yang dilakukan oleh Green Radio ini jadi............
Ayooo hijaukan kembali Bumi Kita tercinta... Untuk kita, untuk generasi selanjutnya... Ok's broo...

Sebuah awal

Persahabatan yang diawali dengan kepercayaan, menghargai perbedaan dan berpacu dalam prestasi untuk menciptakan komunitas unggul dalam kelas yang amburadul namun tidak mandul. Sukabumi.... itulah awal cerita terikatnya hati dan perasaan terhadap persahabatan yang kental dengan susana ceria, bahagia, berbagi duka dan menjadi yang berbeda. Cerita dulu nih yee...... Pada awal kuliah aku kenalan pertama dengan seorang teman yang bernama Manasye, dia ini adalah seorang teman yang pinter, jaim, kadang-kadang lucu dan gila, punya obsesi tinggi, setia kawan dan beridealis tinggi dalam perjalanannya aku dan dia menjadi sahabat sohib yang akrab sekali dan terus bertambah dengan teman-teman baru yang lain seperti Shodiq, Selo, Ruslan, Anto, Yuni, Aai, Yoko, Dhani, Isah dan tentunya masih banyak lagi. Hari-hari terus berlalu dengan suasan ceria di kampus tercinta sampai pada akhirnya kukenal dengan seorang wanita berinisial "M" yang dalam perjalananya kami jadi pacaran (cuit... cuit... , laku juga gue yee....) wah seru banget deh tuh pacaran ma cewe yang satu ini banyak hal-hal aneh yang kita lakuin bareng.... (Oops... jangan negative thinking dulu ya...) dan itu berdampak negative yaitu membuatku agak jauh dengan teman-temenku kecuali Sdr. Selo & Shodiq, tapi masa pacaran itu tidak berlangsung lama hanya kurang lebih satu bulan lamanya, indikasi ini sudah aku rasakan sejak pertengahan hubungan kalau dia menyukai salah sorang temanku dan temanku ini juga ngejar terus ceweku ini, aku sendiri pernah menanyakan sikapnya belakangan "Silahkan saja kamu bergaul dan berteman dengan siapapun bagiku itu ga ada masalah dan fine-fine aja, tapi tolong dong jaga sikap baik-baik". Pada awalnya diikuti tapi hanya sekali dan kemudian kembali seperti semula dan beberapa kali aku melihatnya jalan dan semakin dekat dengan temenku itu dan ada seorang teman dekatnya yang memberi tahukanku kalau dia pergi nonton bareng ma temen itu. Hingga pada akhirnya dia si "M" ini menyatakan ingin putus denganku, sedih memang mendengarkan perkataan itu, tapi itu mugkin akan jauh lebih baik dari pada mempertahankan sebuah hubungan yang sarat dengan kebohongan dan ketidak harmonisan. Hanya satu keinginanku saat itu dia berkata jujur tentang alasannya ingin mengakhiri hubungan ini yang sebenarnya sudah kuketahui jawabanya, tapi yang aku ingin ketahui adalah sejauh mana dia bisa berkata jujur walaupun pada akhirnya dia tetap tidak bisa jujur dan akhirnya berakhirlah hubungan itu dengan tetap menyimpan sebuah kebohongan yang sudah kuketaui jawabanya... (oon juga nih cewe yak...). Tapi tak apalah mungkin inilah yang terbaik buatku melangkah lebih pasti...... sahabat-sahabatku yang selalu setia seperti Manasye, Selo dan Shodiq, mereka selalu ada ketika aku sedang dalam masalah dan kesulitan, mulai dari sinilah aku tahu betapa persahabatan itu jauh lebih kekal dan membahagiakan ketimbang sebuah pacaran.... thank's berat kawan..... meraka selalu mensupport dan memberi semangat baru buatku untuk terus melangkah lebih pasti dalam menjemput masa depan.... hingga pada suatu saat tepatnya saat liburan ujian tengah semester (UTS) aku mengeluarkan ide untuk mengadakan Camping di alam bebas yang sunyi dan damai dan terpilihlah Sukabumi sebagai tempatnya dan tepatnya di Salabintana di bawah kaki Gunung Gede dan Pangrango yang kebetulan tidak begitu jauh dari kampung halaman kawanku yang berbama Ruslan, dari sekian banyak teman-teman di kampus yang aku kabari dan aku ajak ke acara tersebut hanya beberapa orang saja yang begitu antusias mengikuti acara tersebut yaitu aku sendiri (Ponce gokil), Selo, Shodiq, Anto, Ruslan, Dani, Yuni dan Yanti. Disini dan di Salabintana inilah tempat penyatuan hati dah keterikatan kami dalam persahabatan, perasaan dan kekompakan yang begitu solid..... dan terus berlangsung sampai sekarang..... dengan bertambahnya sohib baru seperti Aai, Yoko dan Roisah dan tidak lupa kawanku Manasye yang disusul teman yang lain seperti Dion, Bambang, Faton, Fatikhin, Vrety, Durakhim, Prim dan tentu tidak menutup kemungkinan pada yang lain karena kami selalu terbuka dengan siapapun asal bisa saling menghargai perbedaan, kekurangan dan tetap dalam kebersamaan. Thank's 4 all my friends.... I luv yu full..... hahaha..... (gayanya mbah Surip gitu lho...) semoga persahabatan dan kekompakan ini akan terus terjaga selamanya.... Amiin.